Nama Mustafa Kemal Atatürk selalu memicu perdebatan panjang di dunia Islam. Di satu sisi ia dipuja sebagai pendiri Republik Turki modern, di sisi lain sebagian publik menilainya sebagai tokoh yang “menyimpang” dari ajaran Islam. Bahkan beredar cerita bahwa jasadnya “ditolak tanah” dan makamnya berada di atas tanah. Untuk memahami mengapa persepsi itu muncul, perlu dilihat secara jernih antara fakta sejarah, tafsir politik, dan mitos yang berkembang.
Akar Kontroversi: Kebijakan Sekularisasi yang Radikal
Sumber utama penilaian negatif terhadap Atatürk berasal dari kebijakan reformasinya pada 1920–1930-an. Setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman, ia memimpin transformasi Turki menjadi negara bangsa sekuler.
Langkah yang paling memicu reaksi adalah:
• Penghapusan Kekhalifahan Ottoman (1924)
• Penutupan pengadilan syariah negara
• Penggantian hukum Islam dengan hukum sipil Eropa
• Kewajiban azan berbahasa Turki (1932)
• Pembatasan simbol-simbol keagamaan di ruang negara
Bagi kalangan modernis Turki, ini dipandang sebagai upaya menyelamatkan negara dari kemunduran. Namun bagi sebagian umat Islam global, langkah tersebut dianggap sebagai pemutusan hubungan Turki dengan warisan khilafah dan syariat.
Di sinilah akar stigma “sesat” mulai terbentuk, lebih sebagai penilaian ideologis dan teologis daripada kesimpulan sejarah yang seragam.
Mengapa Stigma “Sesat” Menguat di Publik?
Ada beberapa faktor yang membuat citra negatif itu mengeras di sebagian masyarakat Muslim:
1. Trauma runtuhnya Khilafah
Banyak umat Islam memandang penghapusan khilafah sebagai kehilangan simbol persatuan. Karena Atatürk adalah tokoh yang menandatangani penghapusannya, ia menjadi figur yang disalahkan secara personal.
2. Sekularisme yang dianggap agresif
Reformasi dilakukan cepat dan dari atas (top-down). Penertiban kelompok religius dan pembatasan politik Islam menimbulkan kesan bahwa negara memusuhi agama.
3. Narasi politik lintas generasi
Sejak abad ke-20, berbagai kelompok—baik Islamis maupun anti-sekuler—membangun narasi tandingan terhadap warisan Atatürk. Narasi ini menyebar luas melalui buku populer, ceramah, hingga media sosial.
4. Penyederhanaan sejarah di ruang publik
Figur kompleks sering direduksi menjadi hitam-putih: pahlawan total atau musuh agama. Dalam kasus Atatürk, polarisasi ini sangat kuat.
Soal “Jasad Tidak Diterima Tanah”: Mitos vs Fakta
Salah satu cerita yang sering beredar adalah bahwa jasad Atatürk tidak diterima bumi sehingga makamnya dibuat di atas tanah. Secara historis, klaim ini tidak didukung bukti ilmiah.
Fakta yang dapat diverifikasi:
• Atatürk wafat pada 10 November 1938 di Istanbul.
• Ia awalnya dimakamkan sementara di Museum Etnografi Ankara.
•Tahun 1953 jenazahnya dipindahkan ke Anıtkabir, mausoleum nasional di Ankara.
• Banyak tokoh negara di dunia dimakamkan dalam mausoleum monumental di atas permukaan tanah, ini praktik kenegaraan, bukan fenomena religius.
Cerita “tanah menolak” tidak memiliki dasar dokumenter medis maupun arkeologis. Para sejarawan umumnya menggolongkannya sebagai legenda politik atau mitos religius yang berkembang dalam polemik ideologis.
Mengapa Mitos Bisa Bertahan Lama?
Mitos seperti ini bertahan karena memenuhi kebutuhan psikologis dan ideologis sebagian kelompok:
• Memberi penjelasan moral atas tokoh yang tidak disukai
• Menguatkan identitas kelompok
• Mudah menyebar dalam tradisi lisan dan media sosial
Jarang diverifikasi dengan sumber primer
Fenomena serupa juga terjadi pada banyak tokoh politik kontroversial di berbagai negara, bukan hanya Atatürk.
Warisan yang Kompleks
Secara objektif, warisan Atatürk memang paradoks:
Di satu sisi:
• Ia memimpin perang kemerdekaan melawan pendudukan asing
• Membangun institusi negara modern
• Memperluas pendidikan dan hak perempuan
Di sisi lain:
• Ia menerapkan sekularisme negara yang sangat tegas
• Membatasi politik berbasis agama
• Memimpin dalam sistem satu partai yang otoriter
Karena itulah penilaiannya tidak pernah tunggal.
Label bahwa Mustafa Kemal Atatürk adalah “sesat” lahir terutama dari penilaian teologis dan kekecewaan politik atas penghapusan khilafah serta kebijakan sekularisasi yang keras. Namun klaim sensasional seperti jasadnya ditolak tanah tidak didukung bukti sejarah yang kredibel dan lebih tepat dipahami sebagai mitos yang berkembang dalam konflik narasi.
Memahami Atatürk secara utuh menuntut kita melihat dua hal sekaligus, ia adalah modernis radikal yang mengubah wajah Turki secara permanen, dan pada saat yang sama, tokoh yang kebijakannya melukai sebagian memori kolektif umat Islam. Di antara dua kutub itulah kontroversinya terus hidup hingga hari ini.
Oleh : NIKO






