Literasi.co.id – BONGAS, Indramayu — Gema takbir berkumandang membelah kesunyian malam di Desa Bongas, Kecamatan Bongas. Namun, ada yang berbeda dari perayaan malam Idul Fitri di sini. Bukan sekadar konvoi kendaraan, warga setempat menyambut hari kemenangan dengan sebuah tradisi visual yang megah: pawai kreasi seni kearifan lokal dalam balutan takbir keliling Desa Bongas Indramayu yang menjadi daya tarik utama masyarakat.

Dimulai tepat setelah ibadah salat Isya, jalanan utama desa berubah menjadi panggung seni terbuka. Berbagai replika raksasa yang merupakan bagian dari tradisi malam takbiran di Indramayu tampak diarak berkeliling desa. Aneka macam kreasi seperti ikan, masjid, burung, hingga T-Rex hasil kreativitas jamaah mushola dan masjid ini tampil memukau dengan berbagai bentuk dan pencahayaan yang artistik, memperkuat citra pawai seni takbiran unik di Bongas.
Bukan Sekadar Festival, Tapi Warisan Tradisi
Meskipun terlihat seperti sebuah kompetisi besar, masyarakat menegaskan bahwa acara ini bukanlah ajang kontes atau festival untuk memperebutkan gelar juara.
“Ini adalah adat daerah yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Kami melakukannya sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan menyambut Idul Fitri, bukan untuk berlomba,” ujar salah satu warga setempat.
Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan (guyub) antarwarga. Setiap mushola bergotong-royong membangun kreasi terbaik mereka, menunjukkan semangat kolektif yang masih sangat kental dalam kearifan lokal masyarakat Bongas Indramayu.
Magnet Wisata di Kecamatan Bongas
Kemeriahan di Desa Bongas rupanya sudah terdengar luas ke desa-desa tetangga. Tak heran jika setiap malam takbiran, ribuan warga dari luar desa berduyun-duyun datang untuk menyaksikan langsung iring-iringan tersebut, menjadikannya sebagai wisata budaya malam takbiran di Indramayu yang semakin populer.
Banyak yang menganggap Desa Bongas sebagai “cikal bakal” atau pusat perayaan malam takbiran paling meriah di wilayah Kecamatan Bongas. Meski dipadati lautan manusia, suasana tetap terpantau tertib dan khidmat. Para penonton berjejer di pinggir jalan, mengabadikan momen lewat ponsel mereka sembari ikut melantunkan takbir dalam suasana perayaan Idul Fitri di Desa Bongas yang penuh kebersamaan.
Ikon Kreativitas Lokal
Penggunaan istilah kreasi seni kearifan lokal dalam konteks takbir keliling di sini menunjukkan kuatnya identitas budaya masyarakat setempat dalam mengekspresikan kegembiraan religi. Kreasi yang ditampilkan tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga mencerminkan imajinasi, kekompakan, serta pesan moral yang berkembang di tengah masyarakat selama bulan Ramadan, menjadikan tradisi takbir keliling kreatif di Indramayu sebagai ikon budaya yang patut dilestarikan.
Hingga acara selesai, suasana Desa Bongas tetap kondusif, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang hadir—sebuah bukti bahwa tradisi lama tetap bisa bersinar di era modern tanpa kehilangan jati dirinya.
M.Saifulloh






