30 Jurnalis Bergelar Non-Akademik CIJ–CPW Lahir, AR Learning Center Tegaskan Tolak Stigma “Wartawan Bodrek”

Edukasi, Peristiwa721 Dilihat

Literasi.co.id, Jawa Timur, 16 Februari 2026 – Sebanyak 30 peserta resmi menyandang gelar non-akademik Certified Indonesian Journalist (CIJ) dan Certified Professional Writer (CPW) setelah mengikuti Diklat Jurnalistik & Kepenulisan Nasional yang digelar secara daring pada Minggu (15/2/2026). Program ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan standar kompetensi insan pers sekaligus menegaskan penolakan terhadap stigma “wartawan bodrek”.

Diklat ini merupakan program predikat non-akademik hasil kolaborasi antara Yayasan Pusat Pembelajaran Nusantara, AR Learning Center, dan Suara Utama. Kolaborasi tersebut menghadirkan dua gelar non-formal sekaligus, yakni CIJ dan CPW, sebagai bentuk pengakuan kompetensi di bidang jurnalistik dan kepenulisan profesional.

Sebagai lembaga pelatihan, AR Learning Center memiliki legalitas resmi dan terdaftar dengan Sertifikat Merek IDM000984209, Nomor Induk Berusaha (NIB) 3008220065984, serta SK Kemenkumham AHU-0029087.AH.01.12. Legalitas ini menegaskan bahwa penyelenggaraan program dilakukan secara sah dan memiliki dasar administratif yang jelas.

Program diklat dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan teknis dan etika jurnalistik yang komprehensif. Materi unggulan yang diberikan meliputi peran strategis media di era digital, nilai berita dan kelayakan publikasi, teknik menulis jurnalistik yang efektif dan profesional, editing dan revisi karya tulis, hingga standar dan karakter jurnalis serta penulis profesional. Pendekatan ini menekankan pentingnya akurasi, keberimbangan, dan tanggung jawab sosial dalam setiap karya jurnalistik.

Di tengah maraknya penyalahgunaan profesi pers oleh oknum yang tidak berkompeten, sertifikasi ini menjadi jawaban nyata bahwa jurnalis profesional harus bekerja berdasarkan verifikasi data, pemahaman hukum pers, serta kepatuhan terhadap kode etik. Profesionalisme tidak cukup dibuktikan dengan atribut formal, melainkan dengan kapasitas dan integritas.

Founder AR Learning Center, Coach Andre Hariyanto, menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pers merupakan investasi jangka panjang bagi demokrasi. Menurutnya, jurnalis harus mengedepankan kebenaran dan data, bukan sensasi.

Salah satu peserta, Mohamad Saifulloh, CPP dari Wartawan Media Online Literasi.co.id, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan diklat tersebut.

“Saya sangat berterima kasih kepada AR Learning Center atas pelaksanaan Diklat Jurnalistik ini, karena dengan diklat ini saya lebih banyak informasi dan edukasi bagaimana menjadi penulis yang baik, mengingat saya hanyalah orang biasa dan dari keluarga biasa-biasa saja. Tapi dengan inspirasi kata mutiara Imam Al-Ghazali ‘kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis’, dengan inspirasi tersebut saya pribadi mendapatkan energi positif untuk ke depannya lebih banyak menulis dan memberitakan informasi positif ke publik, dan semua itu saya niatkan sebagai ibadah untuk literasi masyarakat luas,” ujarnya.

Program ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, jurnalis, serta mereka yang belum mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) atau terkendala persyaratan tertentu. Diklat menjadi sarana strategis untuk membangun portofolio, memperkuat kapasitas diri, dan memperluas jejaring profesional.

Lahirnya 30 jurnalis bergelar CIJ dan CPW menegaskan bahwa peningkatan kualitas insan pers dapat dilakukan melalui pendidikan terstruktur dan kolaboratif. Di tengah derasnya arus informasi dan ancaman hoaks, profesionalisme menjadi fondasi utama menjaga marwah profesi serta membangun kepercayaan publik terhadap media.

Oleh : SAM