BUPATI IMRON TEMPA BESI MEMBARA, TANDAI KEBANGKITAN TRADISI KERIS DALAM “GUGAH GAMAN CIREBON 2026”

Budaya745 Dilihat

Literasi.co.id, CIREBON — Semangat menghidupkan kembali warisan budaya perkerisan di Cirebon ditandai dengan prosesi penempaan besi membara oleh Bupati Cirebon, Drs. H. Imron Rosyadi, M.Ag., saat membuka Pameran Keris “Gugah Gaman Cirebon 2026”, Jumat (30/10/2026).

Bertempat di Pendopo Bupati Cirebon, Jalan R.A. Kartini No. 7, Kejaksan, Kota Cirebon, prosesi menempa bahan besi keris tersebut menjadi simbol dimulainya sebuah gerakan pelestarian seni kriya Tosan Aji sekaligus upaya membangkitkan kembali ekosistem perkerisan di wilayah pesisiran Cirebon.

Dentuman palu yang beradu dengan logam panas bukan sekadar bagian dari seremoni pembukaan. Di balik proses tersebut tersimpan pesan tentang pentingnya mempertahankan keahlian para empu, pengetahuan tradisional, serta keterampilan yang menjadi fondasi keberlangsungan budaya keris.

Pameran ini merupakan inisiatif Paguyuban SAKETI (Seni Kreatif Tosan Aji) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, dengan dukungan Kohin (AR Collection), tokoh sekaligus pemerhati dan pelaku perkerisan Tosan Aji tingkat nasional.

Mengusung tema “Gugah Gaman Cirebon” dengan subtema “Fajar Kebangkitan Ekosistem dan Tradisi Seni Kriya Perkerisan Pesisiran Cirebon”, kegiatan ini membawa misi lebih luas daripada sekadar memamerkan benda pusaka. Ada upaya mengangkat kembali seluruh unsur kebudayaan yang selama ini menopang tradisi pembuatan dan perawatan keris.

Sebab, sebuah keris tidak lahir hanya dari keterampilan menempa logam. Proses pembuatannya melibatkan banyak keahlian, mulai dari pembentukan bilah, pembuatan warangka, deder atau gagang, selut, mendak, hingga penjamasan dan perawatan pusaka.

Setiap bagian memiliki karakteristik dan membutuhkan keterampilan khusus. Karena itu, pelestarian perkerisan tidak cukup dilakukan dengan menjaga koleksi benda bersejarah, tetapi juga harus memastikan para perajin, empu, dan pelaku pendukungnya tetap memiliki ruang untuk berkarya.

Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan tersebut adalah demonstrasi pembuatan keris oleh empu muda asal Cirebon, Lingga Nugraha. Melalui peragaan secara langsung, pengunjung dapat menyaksikan tahapan pengolahan logam hingga menjadi bilah keris yang membutuhkan ketelitian, penguasaan teknik, dan pengalaman.

Kehadiran empu muda dalam agenda ini sekaligus memperlihatkan pentingnya regenerasi. Tradisi yang tidak disertai proses transfer keahlian berisiko kehilangan pelaku, meskipun benda-benda peninggalannya masih tersimpan dan terawat.

Selain demonstrasi penempaan, kegiatan juga menghadirkan talkshow bertajuk Keris Cirebon bersama Jimmy S. Hariyanto, tokoh perkerisan nasional. Pembahasan mencakup sejarah, filosofi, karakteristik, nilai artistik, serta perkembangan tradisi keris di wilayah Cirebon.

Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus sarana memperluas pemahaman masyarakat bahwa keris memiliki dimensi kebudayaan yang jauh lebih luas daripada sekadar benda koleksi.

Penyelenggara juga menghadirkan sejumlah pertunjukan seni untuk memperkaya rangkaian acara. Pameran lukisan, tari tradisional dari Sanggar Ni Mas Mayang Sari, serta pertunjukan seni bela diri Silat Padjadjaran turut memberikan warna dalam perhelatan budaya tersebut.

Perpaduan berbagai cabang kesenian ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya Cirebon tidak berdiri sendiri. Seni rupa, seni kriya, seni tari, hingga bela diri merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.

Kehadiran berbagai agenda tersebut juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal warisan tradisional melalui pendekatan yang lebih terbuka dan menarik, tidak terbatas pada kalangan kolektor maupun pemerhati pusaka.

Dalam penyelenggaraan kegiatan ini, unsur pemerintah daerah turut terlibat, termasuk Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon, Drs. H. Hendra Nirmala, S.Sos., M.Si., sebagai salah satu unsur pemerintahan yang terkait dengan penyelenggaraan acara.

Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi penguat bagi komunitas dan pelaku seni tradisional dalam mengembangkan kegiatan pelestarian budaya secara berkelanjutan.

Namun, tantangan pelestarian tradisi perkerisan tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran. Keberadaan empu, besalen atau tempat aktivitas perajin, dokumentasi teknik pembuatan, serta tersedianya ruang pembelajaran bagi generasi penerus merupakan kebutuhan mendasar yang harus mendapat perhatian.

Tanpa kesinambungan tersebut, tradisi perkerisan berpotensi hanya menjadi peninggalan yang dikenang, bukan kebudayaan yang terus hidup dan berkembang.

Melalui Gugah Gaman Cirebon 2026, SAKETI bersama Disbudpar Kabupaten Cirebon berupaya membangun ruang pertemuan antara perajin, empu, kolektor, pemerhati budaya, dan masyarakat luas.

Langkah berikutnya diharapkan dapat diperkuat melalui edukasi, lokakarya, dokumentasi sejarah, serta perluasan jejaring antarpelaku seni perkerisan agar ekosistem Tosan Aji semakin berkembang.

Pembukaan yang ditandai dengan penempaan besi membara oleh Bupati Imron menjadi gambaran bahwa kebangkitan budaya harus dimulai dari tindakan nyata. Melestarikan keris bukan hanya mempertahankan bentuk fisik sebuah pusaka, melainkan menjaga keterampilan, pengetahuan, dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Dari Pendopo Bupati Cirebon, “Gugah Gaman Cirebon 2026” membawa pesan bahwa tradisi tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia harus terus ditempa, dirawat, dikembangkan, dan diwariskan agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya Cirebon di tengah perubahan zaman.

NIKO