Penumpukan Sampah di Depan Pintu Masuk TPA Kopi Luhur Kembali Terjadi, DLH Kota Cirebon Dinilai Gagal Antisipasi Masalah Musiman

Literasi.co.id CIREBON — Persoalan klasik kembali menghantui pengelolaan sampah di Kota Cirebon. Pada Jumat (27/2/2026), terjadi penumpukan sampah yang menggunung hingga memenuhi area depan pintu masuk TPA Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Kondisi tersebut memicu antrean panjang truk pengangkut sampah dari berbagai wilayah Kota Cirebon yang terpaksa mengular di luar area TPA menunggu giliran untuk membuang muatan. Pantauan di lapangan menunjukkan, sampah sementara diturunkan di area dekat pintu masuk, kemudian dipindahkan secara bertahap menggunakan ekskavator ke bagian belakang zona penimbunan.

Skema darurat ini berlangsung berulang dan dinilai tidak efektif. Selain memperlambat ritme pembuangan, antrean kendaraan pengangkut sampah bahkan meluber hingga memenuhi bahu jalan. Situasi diperparah oleh aroma menyengat yang sangat kuat, terutama karena kondisi sampah dalam keadaan basah akibat hujan.

Awak media literasi.co.id menerima klarifikasi dari pihak pengelola melalui Kasubag Bpk.Jawa yang menyebutkan bahwa penumpukan seperti ini merupakan kejadian yang hampir selalu terjadi setiap musim penghujan. Penyebab utamanya adalah kondisi tanah di area TPA yang berubah menjadi lumpur saat diguyur hujan, sehingga berisiko membuat roda truk terperosok di tanah lempung.

Namun penjelasan tersebut justru memunculkan pertanyaan publik. Jika persoalan ini bersifat rutin dan berulang setiap tahun, mengapa hingga kini belum ada solusi permanen dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon?

Pengamat menilai kondisi ini tidak boleh terus dianggap sebagai persoalan musiman semata. DLH Kota Cirebon didesak untuk segera menghadirkan langkah konkret dan terukur agar peristiwa serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.

Salah satu solusi yang dinilai mendesak adalah pembangunan akses jalan permanen di area TPA, misalnya melalui pengecoran atau pembetonan jalur utama. Dengan infrastruktur yang memadai, truk pengangkut sampah dapat langsung menuju zona pembuangan belakang tanpa harus menumpuk di pintu masuk.

Selama ini, jalur kendaraan di lokasi TPA masih berupa tanah, yang sangat rentan berubah menjadi lembek dan berlumpur saat terkena air hujan. Kondisi inilah yang diduga menjadi akar persoalan keterlambatan pembuangan sampah.

Jika tidak segera dibenahi, penumpukan sampah di TPA Kopi Luhur berpotensi terus menjadi masalah musiman tahunan, yang bukan hanya mengganggu operasional pengangkutan sampah, tetapi juga berdampak pada kenyamanan lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

NIKO • LITERASI.CO.ID