Literasi.co.id, BERASTAGI, KARO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi ujian serius. Sebanyak 353 siswa di wilayah Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kasus ini bukan sekadar persoalan berapa banyak siswa yang jatuh sakit. Peristiwa tersebut membuka pertanyaan yang jauh lebih besar: seberapa ketat pengawasan keamanan pangan dalam program MBG ketika satu dapur penyedia makanan melayani ribuan penerima manfaat?
Data korban pada awal kejadian terus berubah karena gejala tidak dialami secara bersamaan. Dari laporan awal sebanyak ratusan siswa, jumlah tersebut kemudian meningkat hingga 353 siswa, berdasarkan keterangan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Para siswa dilaporkan mengalami sejumlah gejala, antara lain gatal pada mulut dan tenggorokan, rasa getir di mulut, gatal pada kulit, lemas, muntah hingga sesak napas.
Bahkan, terdapat seorang siswa yang sempat mengalami kondisi cukup serius hingga harus dirujuk ke rumah sakit di Medan dan menjalani perawatan di ICU. Kondisinya kemudian dilaporkan membaik.
Gulai Ikan Dencis Disorot, Tetapi Belum Terbukti
Menu MBG yang dikonsumsi siswa saat kejadian antara lain sayur kol, wortel dan gulai ikan dencis.
Ikan dencis kemudian menjadi salah satu bahan makanan yang disorot karena sejumlah siswa mengaku mengalami gatal pada mulut setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Namun, menjadikan ikan dencis sebagai penyebab keracunan saat ini masih terlalu dini.
Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. Karena itu, penyebab pasti kejadian belum dapat dinyatakan sebelum hasil pemeriksaan ilmiah keluar.
Pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya “makanan apa yang menyebabkan siswa sakit?”, tetapi juga “di titik mana standar keamanan pangan gagal dijalankan?”
Apakah persoalan berada pada bahan baku?
Apakah proses pencucian dan pengolahan bermasalah?
Apakah makanan disimpan pada suhu yang tidak sesuai?
Apakah terjadi kontaminasi silang?
Ataukah terdapat persoalan dalam proses distribusi makanan dari dapur menuju sekolah?
Semua kemungkinan tersebut harus diuji secara terbuka.
Satu Dapur Layani Lebih dari 2.900 Penerima
Satu fakta lain yang patut mendapat perhatian adalah kapasitas dapur SPPG yang disebut melayani lebih dari 2.900 penerima manfaat, termasuk kelompok ibu hamil.
Ketika satu dapur memproduksi makanan dalam jumlah sangat besar, maka pengawasan keamanan pangan seharusnya tidak boleh berhenti pada pemeriksaan bahan makanan.
Rantai prosesnya harus diawasi dari awal hingga makanan dikonsumsi.
Mulai dari pengadaan bahan baku, penerimaan bahan, penyimpanan, proses memasak, pengemasan, pengangkutan, waktu distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
Sebab, semakin besar volume produksi, semakin besar pula konsekuensi apabila terjadi satu titik kegagalan dalam sistem keamanan pangan.
Dan kasus Berastagi menunjukkan konsekuensi itu bukan lagi sekadar kemungkinan.
Ratusan anak sekolah terdampak.
BGN Bertindak: SPPG Disuspend
Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengambil tindakan dengan menghentikan sementara operasional SPPG yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Kepala SPPG juga disebut dicopot, sementara sampel makanan diperiksa untuk mencari penyebab kejadian.
Langkah tersebut penting, tetapi publik tentu membutuhkan jawaban yang lebih lengkap.
Penghentian sementara tidak boleh menjadi akhir dari persoalan.
Justru dari sinilah investigasi harus dimulai.
Mengapa kejadian tersebut bisa terjadi?
Siapa yang bertanggung jawab terhadap pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan?
Bagaimana prosedur pengujian makanan sebelum diberikan kepada anak-anak?
Apakah seluruh standar keamanan pangan benar-benar dijalankan atau hanya berhenti sebagai prosedur administratif?
Jangan Tunggu Korban Bertambah
Program MBG memiliki tujuan besar: memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi dan mendukung kualitas generasi masa depan.
Karena itu, aspek keamanan pangan harus ditempatkan sejajar dengan aspek gizi.
Makanan yang bergizi tetapi tidak aman dikonsumsi tentu akan kehilangan tujuan utamanya.
Kasus Berastagi semestinya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan MBG, khususnya SPPG yang memiliki kapasitas produksi besar.
Publik tidak cukup hanya diberi tahu bahwa makanan telah diperiksa di laboratorium.
Publik berhak mengetahui hasil pemeriksaannya, bahan apa yang bermasalah, bagaimana kontaminasi terjadi, siapa yang lalai, dan apa langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi sebuah dapur penyedia makanan.
Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap program MBG dan keselamatan anak-anak penerima manfaat.
353 siswa yang mengalami gangguan kesehatan harus menjadi alarm keras.
Jangan sampai evaluasi baru dilakukan setelah jumlah korban kembali bertambah.
LITERASI.CO.ID – Mengawal informasi publik, mempertanyakan yang perlu dipertanyakan, dan memastikan keselamatan anak tidak dikalahkan oleh sekadar mengejar target distribusi.
NIKO






