literasi.co.id, CIREBON – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan yang diduga dilakukan Taufik Hidayat terus menyita perhatian publik. Peristiwa yang kini ditangani aparat penegak hukum tersebut memunculkan berbagai pembahasan mengenai pembentukan karakter seseorang sejak usia dini. Polisi masih mendalami motif dan latar belakang pelaku, sementara berbagai pihak mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab perilaku pelaku sebelum proses hukum dan penyelidikan selesai.
Menanggapi hal tersebut, Niko Andri Lesmana, praktisi hipnotis dan hipnoterapi, asal Kota Cirebon, menyampaikan bahwa karakter seseorang terbentuk melalui proses yang panjang. Menurutnya, pola asuh merupakan salah satu faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penyebab seseorang dapat melakukan tindakan ekstrem. “Tidak tepat jika menyimpulkan bahwa seseorang menjadi pelaku kekerasan hanya karena dimanja sejak kecil. Karakter manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pola asuh, pengalaman hidup, lingkungan pergaulan, kemampuan mengelola emosi, hingga kondisi psikologis yang perlu dinilai secara profesional,” ujarnya.
Niko menjelaskan bahwa anak yang sejak kecil selalu dituruti keinginannya tanpa diberikan batasan, disiplin, tanggung jawab, serta pendidikan empati berpotensi tumbuh dengan toleransi frustrasi yang rendah. Dalam kondisi tertentu, ketika menghadapi penolakan atau konflik, individu seperti ini dapat lebih sulit mengendalikan emosi. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti setiap anak yang dimanja akan tumbuh menjadi pelaku kekerasan. “Risiko itu hanya dapat meningkat bila terdapat kombinasi berbagai faktor lain yang tidak ditangani dengan baik,” katanya.
Ia pun mengingatkan para orang tua agar tidak hanya memberikan kasih sayang, tetapi juga membangun karakter anak melalui keteladanan, aturan yang konsisten, serta pendidikan moral sejak dini. Menurutnya, anak perlu diajarkan menghargai orang lain, menerima penolakan, bertanggung jawab atas perbuatannya, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Pendidikan karakter yang kuat sejak usia dini akan menjadi bekal penting agar anak mampu mengendalikan emosi dan memiliki empati ketika dewasa.
Kasus dugaan penganiayaan dan penyekapan di Bandung menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa pencegahan kekerasan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Sementara proses hukum terhadap tersangka terus berjalan, berbagai pihak berharap peristiwa serupa tidak kembali terulang. Korban sendiri saat ini masih menjalani pemulihan, sedangkan aparat terus mendalami seluruh fakta dan motif dalam perkara tersebut.
Dian Septian






