Tokoh Ulama Pertanyakan Alasan Hari Jadi Indramayu Tak Libatkan Kyai Lokal dalam Kegiatan Keagamaan

Religi445 Dilihat

literasi.co.id, INDRAMAYU – Kehadiran Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Indramayu menuai tanggapan dari kalangan ulama setempat. Salah satu kritik datang dari K.H.M Mustofa Bisri Alfakir , ulama asal Indramayu.

K.H. Mustofa menilai, Indramayu memiliki banyak ulama dan kyai lokal yang mumpuni dengan kedalaman ilmu agama yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Menurutnya, keilmuan dan kontribusi para kyai daerah seharusnya mendapat ruang utama dalam acara resmi yang membawa nama daerah.

“Indramayu tidak kekurangan figur ulama yang cerdas, berilmu tinggi, dan mengakar di tengah masyarakat. Pertanyaannya, mengapa pada momen istimewa seperti Hari Jadi Indramayu kita tidak menampilkan potensi ulama dan kyai asli daerah sendiri?” ujar K.H.M Mustofa Bisri Alfakir.

Ia menegaskan, pandangan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap ulama atau habaib dari luar daerah.

Melainkan harapan agar pemerintah daerah dan panitia penyelenggara memberikan apresiasi dan panggung kehormatan bagi tokoh ulama lokal yang selama ini membina umat secara langsung di Bumi Wiralodra.

K.H. M Mustofa Bisri Alfakir berharap, ke depan momentum besar keagamaan di Indramayu dapat menjadi ajang pembuktian bahwa potensi keilmuan dan dakwah lokal mampu memimpin dan mengayomi masyarakat di tanah kelahirannya sendiri.

*Pentingnya Ruang bagi Ulama Lokal*

Dinamika keagamaan di Kabupaten Indramayu selama ini hidup dan berkembang pesat.

Kehadiran figur nasional seperti Habib Syech memang kerap menyedot perhatian ribuan jamaah dan membawa suasana syiar yang meriah.

Namun kritik yang disampaikan
K.H.M Musthofa Bisri Alfakir membuka ruang diskusi penting mengenai keberpihakan terhadap potensi keagamaan lokal.

Indramayu sejak lama dikenal sebagai basis pesantren dan tempat lahirnya para alim ulama.

Ketika momentum puncak Hari Jadi diselenggarakan, pelibatan kyai dan ulama asli Indramayu bukan sekadar formalitas, melainkan simbol pengakuan atas jasa dan keilmuan mereka yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat.

Keseimbangan antara mendatangkan tokoh nasional untuk menarik antusiasme dan mempercayakan panggung utama kepada ulama lokal menjadi catatan penting bagi penyelenggara di masa mendatang.

Penguatan identitas dan jati diri ulama lokal adalah bagian dari upaya membangun Indramayu yang mandiri secara keilmuan.

(Boby)