Literasi.co.id, CIREBON — Kasus dugaan bullying terhadap siswa kelas 3 SD Santa Maria Cirebon memasuki babak yang semakin panas. Dua pihak telah menggandeng kuasa hukum dan saling memberikan pernyataan di tengah proses penanganan di Polres Cirebon Kota. Namun, di balik perang statemen tersebut, justru muncul satu persoalan yang mengundang pertanyaan besar: mengapa rekaman CCTV pada 24 Juli 2026, tanggal yang disebut berkaitan dengan dugaan peristiwa bullying, justru mendadak hilang, sementara rekaman pada tanggal sebelum dan sesudahnya disebut masih ada?
Persoalan semakin tajam ketika pembuktian seolah berkutat pada hasil visum untuk melihat ada atau tidaknya luka fisik. Padahal, di sisi lain, terdapat hasil asesmen yang mencatat kondisi psikologis anak yang disebut mengalami dampak serius. Lantas, apakah luka yang tidak terlihat mata harus dianggap kurang penting dibanding luka yang terlihat di tubuh? Dan jika CCTV menjadi salah satu petunjuk penting, mengapa hilangnya rekaman justru belum menjadi pertanyaan utama yang terjawab?
VISUM JADI SOROTAN, TRAUMA PSIKOLOGIS JANGAN DIABAIKAN
Informasi yang diperoleh awak media menyebutkan adanya penekanan terhadap bukti hasil visum dalam proses penanganan perkara. Bahkan terdapat informasi mengenai pernyataan dari pihak Unit PPA Polres Cirebon Kota bahwa apabila hasil visum tidak menemukan jejak luka memar atau luka fisik lainnya, proses hukum tidak dapat dilanjutkan.
Keterangan tersebut tentu masih perlu dikonfirmasi secara resmi kepada pihak terkait.
Sebab, dugaan perundungan terhadap anak tidak selalu berbentuk luka fisik yang mudah terlihat. Dampak psikologis juga menjadi bagian yang patut diperiksa secara serius.
Dalam Hasil Asesmen/Observasi Komisi Nasional Perlindungan Anak Cirebon Raya Nomor 002/XIII/2026/KOMNAS.PA CIREBON RAYA, anak disebut mengaku mengalami perundungan dan memendam pengalaman tersebut selama hampir satu bulan karena takut membebani orang tuanya.
Hasil pemeriksaan juga mencatat sejumlah persoalan psikologis. Skor SDQ menunjukkan kesulitan keseluruhan 24 dan gejala emosi 9. Pemeriksaan tambahan mencatat skor 32 terkait kemungkinan gangguan depresi serta skor 40 terkait iritabilitas.
Catatan konseling turut menyebut perubahan perilaku, mulai mudah marah, sensitif, kehilangan kepercayaan diri, tidak ingin bersekolah, hingga muncul pernyataan yang mengarah pada keinginan untuk mati.
Ini bukan tuduhan bahwa bullying telah terbukti. Tetapi jika seorang anak sampai mengalami perubahan perilaku sedemikian rupa, bukankah kondisi tersebut layak menjadi alarm yang harus diperiksa secara serius?
CCTV 24 JULI 2026 HILANG, KENAPA?
Di tengah polemik tersebut, persoalan CCTV justru menjadi bagian yang tak kalah penting.
Orang tua korban disebut telah meminta kepada pihak sekolah agar dapat melihat rekaman CCTV. Namun, menurut informasi yang diterima awak media, rekaman baru dapat diperlihatkan sekitar empat hari kemudian.
Yang membuat persoalan semakin dipertanyakan, rekaman pada 24 Juli 2026 disebut tidak tersedia. Sementara rekaman sebelum dan sesudah tanggal tersebut disebut masih ada.
Jika benar demikian, pertanyaan publik menjadi sederhana:
Apa yang sebenarnya terjadi dengan rekaman pada tanggal tersebut?
Penjelasan yang muncul pun disebut berbeda-beda.
Kepada orang tua korban, disebutkan bahwa perangkat CCTV hanya mampu menyimpan rekaman selama satu minggu.
Namun kepada awak media muncul keterangan bahwa CCTV mengalami error atau kerusakan.
Dalam pertemuan yang dimediasi pihak sekolah dan menghadirkan teknisi CCTV, kembali muncul penjelasan mengenai persoalan koneksi Wi-Fi, IP address hingga baterai yang disebut tidak berfungsi.
Perbedaan penjelasan tersebut tentu belum berarti adanya kesalahan atau kesengajaan dari pihak tertentu.
Tetapi justru karena terdapat perbedaan keterangan, pemeriksaan teknis terhadap perangkat CCTV menjadi penting untuk menjawab apa yang sebenarnya terjadi.
BUKAN SEKADAR SOAL CCTV, TAPI SOAL FAKTA
Jika perangkat mengalami kerusakan, kapan kerusakan tersebut terjadi?
Jika kapasitas penyimpanan hanya tujuh hari, bagaimana sistem penyimpanannya bekerja?
Jika terjadi error, apakah terdapat catatan teknis?
Dan yang paling penting, mengapa rekaman pada tanggal yang justru sedang dipersoalkan tidak tersedia?
Pertanyaan tersebut seharusnya tidak dijawab dengan asumsi.
Jawabannya harus dicari melalui pemeriksaan perangkat, sistem penyimpanan, keterangan teknisi, pihak sekolah, maupun saksi-saksi yang mengetahui rangkaian kejadian.
Apalagi jika CCTV memang berada di lingkungan sekolah dan berpotensi memberikan gambaran mengenai aktivitas yang terjadi pada waktu tersebut.
JANGAN SAMPAI ANAK KEMBALI MENJADI KORBAN
Kasus ini pada akhirnya bukan sekadar pertarungan argumentasi dua kuasa hukum.
Ada seorang anak yang disebut mengalami tekanan psikologis.
Ada dugaan perundungan yang masih harus dibuktikan.
Ada hasil asesmen yang perlu ditindaklanjuti.
Ada persoalan visum yang menjadi perdebatan.
Dan ada rekaman CCTV yang disebut hilang pada tanggal yang justru menjadi bagian penting dalam perkara.
Semua itu membutuhkan satu hal: pemeriksaan yang objektif.
Pihak sekolah tentu berhak memberikan penjelasan. Orang tua korban berhak memperjuangkan kepentingan anak. Anak-anak yang diduga terlibat juga memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan proses sesuai ketentuan hukum.
Namun publik juga berhak mendapatkan jawaban mengenai bagaimana sistem perlindungan anak di lingkungan sekolah berjalan.
Sebab sekolah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman, bukan tempat yang membuat seorang anak takut untuk kembali.
Kini bola berada pada proses pemeriksaan.
Bukan siapa yang paling keras berbicara.
Bukan siapa yang paling banyak memberikan statemen.
Tetapi siapa yang mampu menghadirkan fakta.
Jika CCTV memang rusak, buktikan secara teknis.
Jika rekaman memang terhapus karena sistem, jelaskan mekanismenya.
Jika visum tidak menunjukkan luka fisik, jangan serta-merta mengabaikan pemeriksaan psikologis.
Dan jika dugaan bullying tidak terbukti, ungkap pula faktanya secara terang agar tidak ada pihak yang dirugikan oleh informasi yang belum terverifikasi.
Karena dalam kasus yang melibatkan anak, kebenaran tidak boleh kalah oleh perang narasi.
Dan satu pertanyaan yang kini paling menunggu jawaban:
Jika tidak ada yang perlu disembunyikan, mengapa rekaman CCTV pada tanggal yang dipersoalkan justru tidak tersedia?
Pertanyaan itu bukan vonis.
Tetapi layak dijawab.
NIKO






