OPINI
Literasi.co.id Indramayu 2 April 2026 – Gelombang demonstrasi di Indramayu bukan sekadar aksi turun ke jalan. Ia adalah sinyal keras bahwa ada komunikasi yang terputus antara rakyat dan pemimpinnya. Ketika masyarakat memilih untuk berdiri di bawah terik matahari, membawa tuntutan, bahkan mempertaruhkan ketertiban, itu bukan tanpa alasan—mereka ingin didengar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sosok pemimpin yang ditunggu, Lucky Hakim, tidak hadir di tengah massa yang membutuhkan jawaban. Ketidakhadiran ini bukan hanya soal fisik, tetapi mencerminkan jarak emosional dan politik yang semakin melebar antara pemerintah dan rakyatnya.
Demo bukan ancaman. Demo adalah bentuk komunikasi terakhir ketika saluran formal dianggap tidak lagi efektif. Jika masyarakat sudah memilih jalan ini, artinya ada kegagalan dalam membangun dialog sejak awal. Menghindari massa bukan solusi—justru memperbesar ketidakpercayaan dan memicu eskalasi yang lebih luas.
Lebih mengkhawatirkan, kekecewaan yang tidak tertampung bisa berubah menjadi tindakan destruktif, seperti yang terlihat dari sasaran fasilitas umum. Ini bukan semata kesalahan massa, tetapi juga buah dari absennya kepemimpinan di saat krusial. Pemimpin bukan hanya hadir saat seremoni, tetapi juga saat situasi sulit.
Seorang kepala daerah tidak cukup hanya bekerja di balik meja. Ia harus hadir, mendengar, dan jika perlu, berdiri di hadapan rakyatnya—even ketika kritik datang bertubi-tubi. Di situlah letak legitimasi seorang pemimpin diuji.
Jika setiap aksi dijawab dengan ketidakhadiran, maka jangan salahkan rakyat jika ke depan mereka memilih cara yang lebih keras untuk didengar. Indramayu tidak kekurangan suara rakyat—yang kurang adalah telinga yang mau mendengar.
Sudah saatnya Bupati Indramayu memahami satu hal mendasar: ketika rakyat datang berdemo, itu bukan untuk dilawan atau dihindari. Itu adalah panggilan untuk berkomunikasi. Dan mengabaikan panggilan itu, sama saja dengan menunda masalah menjadi krisis yang lebih besar.
Hisam







