MISTERI CCTV SD SANTA MARIA CIREBON, PENGAKUAN TIGA VERSI PENJELASAN KASUS DUGAAN BULLYING 

Hukum935 Dilihat

Literasi.co.id, CIREBON — Dugaan bullying terhadap siswa kelas 3B SD Santa Maria Cirebon kembali menyisakan pertanyaan serius. Bukan hanya soal apa yang terjadi pada 24 Juli 2026, tetapi juga mengapa rekaman CCTV yang semestinya dapat membantu mengurai kejadian justru tidak tersedia.

Yang menjadi sorotan bukan semata-mata hilangnya rekaman, melainkan perbedaan penjelasan mengenai penyebabnya.

Kepada orang tua, disebutkan rekaman CCTV hanya tersimpan selama tujuh hari. Kepada media, muncul keterangan bahwa perangkat mengalami error atau kerusakan. Dalam pertemuan yang turut melibatkan teknisi, persoalan kemudian dikaitkan dengan koneksi Wi-Fi, IP address hingga baterai.

Lantas, yang sebenarnya terjadi apa?

Jika benar karena kapasitas penyimpanan, harus bisa dijelaskan berapa kapasitas perangkat dan bagaimana sistem overwrite bekerja.

Jika karena kerusakan, kapan kerusakan terjadi dan apakah terdapat catatan teknisi atau riwayat pemeliharaan?

Jika karena jaringan atau baterai, apakah kamera berhenti merekam atau hanya rekamannya yang tidak dapat diakses?

Pertanyaan tersebut penting karena “rekaman tidak ada” berbeda dengan “rekaman tidak dapat diakses.”

Di sinilah persoalan CCTV tidak cukup dijawab dengan pernyataan bahwa perangkat bermasalah. Yang dibutuhkan adalah bukti teknis: log sistem, konfigurasi penyimpanan, riwayat gangguan, catatan pemeliharaan dan hasil pemeriksaan perangkat.

JANGAN BIARKAN TIGA VERSI MENJADI TIGA CERITA

Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa hilangnya rekaman merupakan tindakan yang disengaja.

Namun, perbedaan penjelasan tetap layak diuji.

Satu tanggal. Satu perangkat. Satu sistem.

Maka semestinya ada satu penjelasan teknis yang dapat diverifikasi.

Polemik juga tidak semestinya berhenti pada persoalan visum. Tidak ditemukannya luka fisik bukan berarti seluruh dugaan perundungan otomatis gugur. Sebaliknya, dugaan dampak psikologis terhadap anak juga harus dinilai melalui pemeriksaan profesional, bukan asumsi.

Yang paling penting, kepentingan anak jangan sampai tenggelam di tengah perang pernyataan.

Publik tidak membutuhkan narasi yang saling berganti. Publik membutuhkan fakta yang bisa diperiksa.

Jika CCTV memang bermasalah, tunjukkan masalahnya.

Jika rekaman terhapus otomatis, jelaskan sistemnya.

Jika perangkat rusak, tunjukkan riwayat kerusakannya.

Jika hanya aksesnya yang terganggu, jelaskan mengapa dan bagaimana.

Sebab semakin lama tiga versi penjelasan dibiarkan tanpa rekonsiliasi, semakin besar pula pertanyaan yang muncul.

Misterinya bukan sekadar ke mana rekaman CCTV pergi.

Pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa untuk satu rekaman pada tanggal yang sama, muncul penjelasan teknis yang berbeda-beda?

Dugaan bullying dan tidak tersedianya rekaman CCTV 24 Juli 2026 masih memerlukan verifikasi serta klarifikasi dari pihak sekolah dan pihak-pihak terkait. Perbedaan keterangan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kesengajaan atau pelanggaran.

NIKO