Literasi.co.id, CIREBON – Suasana berbeda terasa di Desa Cikeusal, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon. Tradisi Sedekah Bumi kembali digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak boleh tergerus oleh derasnya perubahan zaman.
Kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Cikeusal tersebut berlangsung meriah dengan keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan. Warga tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi turut menjadi bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Cikeusal, Sedekah Bumi bukan sekadar agenda tahunan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap tradisi serta rasa syukur atas kehidupan dan hasil bumi yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat desa.
Kuwu Desa Cikeusal, Dedi Karsono, yang akrab disapa Kang Dedi Karsono (KDK), mengatakan bahwa menjaga tradisi merupakan tanggung jawab bersama.
“Sedekah Bumi bukan hanya seremonial. Ada nilai budaya, sosial dan kebersamaan yang harus terus kita rawat. Jangan sampai anak-anak muda justru lebih mengenal budaya luar daripada tradisi daerahnya sendiri,” ujar Kang Dedi.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmasyarakat. Tradisi yang dilaksanakan secara bersama-sama dinilai mampu menumbuhkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian sosial warga.
Tradisi Lama, Makna yang Tetap Relevan
Salah seorang tokoh masyarakat Desa Cikeusal menilai Sedekah Bumi memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar perayaan.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengingat kembali pentingnya rasa syukur sekaligus menjaga hubungan sosial di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah.
“Sedekah Bumi mengajarkan kita untuk bersyukur sekaligus menjaga warisan leluhur. Jangan sampai tradisi yang memiliki nilai seperti ini hilang karena perkembangan zaman,” ungkapnya.
Ia berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi dapat terus diperkenalkan kepada generasi muda sehingga mereka memahami sekaligus memiliki rasa bangga terhadap budaya daerahnya.
Malam Makin Semarak, Wayang Kulit Jadi Magnet Warga
Kemudian ketika malam tiba, kemeriahan berlanjut melalui pagelaran wayang kulit.
Kesenian tradisional tersebut menjadi hiburan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Di tengah maraknya hiburan modern, wayang kulit tetap mendapat ruang untuk tampil dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan budaya Desa Cikeusal.
Bagi masyarakat, pertunjukan tersebut bukan hanya tontonan. Wayang kulit juga menjadi media untuk mengenalkan kembali kesenian tradisional kepada generasi muda, sekaligus mempertahankan warisan budaya yang sarat dengan nilai sejarah dan filosofi kehidupan.
Antusiasme warga menjadi gambaran bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat ketika dikemas dalam sebuah kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Kang Dedi berharap kegiatan budaya semacam ini dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sehingga Desa Cikeusal tidak hanya memiliki tradisi, tetapi juga memiliki komitmen untuk merawatnya.
“Kita ingin tradisi leluhur tetap hidup. Anak-anak muda harus mengenalnya, masyarakat harus menjaganya, dan budaya ini menjadi kebanggaan bersama warga Desa Cikeusal,” pungkasnya.
NIKO






