Panjang Jimat Keraton Kaprabonan Cirebon dan Kirab Keris Pusaka Ki Jagasatru Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 

Budaya1045 Dilihat

Literasi.co.id, CIREBON — Tradisi budaya dan religi kembali menyatu dalam pelaksanaan Panjang Jimat di Keraton Kaprabonan Cirebon, Rabu malam, 26 Agustus 2026. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi momentum untuk merawat warisan tradisi dan nilai-nilai spiritual yang telah hidup di tengah masyarakat Cirebon.

Rangkaian kegiatan mulai terlihat sekitar pukul 19.00 WIB. Suasana Keraton Kaprabonan semakin semarak dengan hadirnya kesenian Gembyung yang dibawa oleh KH. Ma’dun, pimpinan Pondok Pesantren Kebon Syarif, Cibogo, Argasunya, Kota Cirebon.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, S.Sos, perwakilan Dinas Provinsi Jawa Barat, perwakilan Pemerintah Kota Cirebon, serta sejumlah tokoh dan pemerhati budaya. Tampak pula budayawan Papi Tanto yang turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Setelah rangkaian pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Selanjutnya, Pangeran Handi Raja Keprabon, Sultan ke-11, menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi rangkaian acara Panjang Jimat.

Memasuki bagian yang menjadi salah satu inti tradisi, suasana Keraton Kaprabonan berubah semakin khidmat ketika dilaksanakan prosesi penyerahan pusaka Keris “Ki Jagasatru” kepada pemimpin kirab.

Keris Ki Jagasatru dalam tradisi tersebut memiliki filosofi sebagai pusaka tolak bala, yang menjadi bagian dari simbol dan makna spiritual dalam rangkaian Panjang Jimat.

Pusaka tersebut diserahkan kepada Patih Rudi Purwanto selaku pemimpin kirab, yang didampingi oleh dua senopati. Setelah prosesi penyerahan, Ki Jagasatru kemudian dibawa keluar dari lingkungan Keraton Kaprabonan untuk mengikuti kirab mengelilingi sejumlah ruas jalan.

Kirab berlangsung melalui kawasan Jalan Lemahwungkuk dan Jalan Merdeka, sebelum rombongan kembali menuju Keraton Kaprabon.

Prosesi kirab bukan sekadar perjalanan membawa benda pusaka, tetapi menjadi bagian dari tradisi yang mempertemukan unsur sejarah, kebudayaan, penghormatan terhadap leluhur, serta nilai-nilai keagamaan yang berkembang dalam tradisi masyarakat Cirebon.

Setelah rombongan kirab kembali ke lingkungan keraton, rangkaian kegiatan memasuki puncak acara.

Seluruh peserta dan tamu undangan kemudian memasuki ruang utama Keraton Kaprabonan. Dalam suasana yang penuh khidmat, seluruh hadirin bersama-sama melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi.

Perpaduan antara tradisi Panjang Jimat, kirab pusaka, kesenian Gembyung, pembacaan Al-Qur’an dan lantunan shalawat tersebut memperlihatkan bagaimana kebudayaan Cirebon memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai keislaman.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW melalui tradisi Panjang Jimat di Keraton Kaprabonan juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak semata-mata mempertahankan bentuk tradisinya, tetapi juga menjaga nilai, filosofi dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi semacam ini menjadi bagian penting dari identitas budaya Cirebon, sebuah warisan yang terus dipertahankan melalui keterlibatan keraton, tokoh agama, budayawan, pemerintah dan masyarakat.

Panjang Jimat Keraton Kaprabonan 2026 pun menjadi simbol perjumpaan antara tradisi, budaya dan religiusitas masyarakat Cirebon dalam memperingati kelahiran junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW.

NIKO