MAULID NABI MENGGEMA! Ratusan Jamaah Padati Masjid Syekh Anwarudin Kriyan Cibogo, Ember Berkat Jadi Rebutan hingga Bikin Panitia Kewalahan

Budaya983 Dilihat

Literasi.co.id, CIREBON – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pondok Pesantren Kebon Syarif Kampung Cibogo, pimpinan KH. Ma’dun, berlangsung meriah dan khidmat, Senin (31/8/2026).

Acara besar yang dipusatkan di Masjid Syekh Anwaruddin Kriyan, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, tersebut dihadiri ratusan jamaah dari berbagai kalangan. Tidak hanya warga sekitar, jamaah juga berdatangan dari luar wilayah Kampung Cibogo hingga memenuhi bagian dalam maupun halaman Masjid Syekh Anwaruddin Kriyan.

 

Suasana semakin khidmat ketika memasuki acara inti. Pembacaan doa dipimpin oleh Kyai Sepuh KH. Muayyad dari Benda Kerep, yang kemudian diikuti ratusan jamaah dengan lantunan doa dan shalawat Nabi Muhammad SAW.

Kebersamaan jamaah dari berbagai usia terlihat begitu kuat. Anak-anak, orang dewasa hingga para manula larut dalam suasana peringatan Maulid Nabi. Lantunan shalawat menggema dari dalam masjid hingga ke area luar, tempat sebagian jamaah mengikuti rangkaian acara karena tidak kebagian tempat di dalam.

 

Kegiatan tersebut juga turut dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Barat serta Disbudpar Kota Cirebon.

Ada pemandangan unik yang menjadi daya tarik tersendiri dalam peringatan Maulid Nabi di Masjid Syekh Anwaruddin Kriyan.

Ratusan jamaah tampak antusias menantikan pembagian ember berkat berukuran besar. Bukan sekadar ember plastik kosong, wadah tersebut telah diisi berbagai hidangan, mulai dari nasi dan lauk-pauk, makanan ringan, minuman hingga buah-buahan.

Antusiasme paling terlihat dari jamaah yang tidak dapat menempati barisan di dalam masjid. Mayoritas kaum ibu atau emak-emak tampak berusaha mendekati lokasi pembagian ember berkat. Bahkan, beberapa di antaranya terlihat tetap membawa serta anak balita dalam suasana yang cukup padat.

Tingginya antusiasme sempat membuat suasana pembagian berkat sedikit riuh. Desakan jamaah yang ingin segera mendapatkan ember berkat membuat panitia sempat kerepotan mengatur barisan dan pembagian.

Situasi tersebut bahkan sempat menimbulkan sedikit kericuhan, meski suasana secara keseluruhan tetap berada dalam rangkaian kegiatan keagamaan dan kebersamaan masyarakat.

Namun, di balik antusiasme tersebut terdapat pemaknaan yang lebih dalam bagi para jamaah.

Ember berkat yang dibawa pulang bukan semata-mata dipandang sebagai makanan atau kebutuhan konsumsi. Bagi sebagian jamaah, berkat merupakan simbol berbagi rezeki dan kebersamaan sekaligus bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, antusiasme mendapatkan ember berkat tidak semata-mata dapat dipahami sebagai persoalan isi makanan di dalamnya. Ada harapan dan keyakinan masyarakat bahwa momentum Maulid Nabi menjadi sarana untuk mendapatkan keberkahan dari doa, shalawat dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Tradisi berbagi berkat tersebut pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari semarak peringatan Maulid Nabi di tengah masyarakat.

Dari anak-anak hingga manula, seluruh jamaah larut dalam suasana yang sama. Mereka datang untuk mengikuti doa, bershalawat dan mengenang keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Pada akhirnya, ember berkat hanyalah simbol. Esensi utama yang dicari jamaah bukan sekadar nasi, lauk, minuman maupun buah-buahan di dalam ember, melainkan keberkahan, kebersamaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Kebon Syarif pun menjadi gambaran bagaimana tradisi keagamaan masih mampu mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu majelis, satu doa dan satu lantunan shalawat.

NIKO