12 Kali Ujian Batal, Mahasiswi Berakhir Depresi! Ada Apa di Balik Sistem Akademik Undana? Publik Desak Transparansi Total

Pendidikan936 Dilihat

literasi.co.id, KUPANG – Dunia pendidikan tinggi kembali diguncang. Seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) diduga mengalami depresi berat setelah proses penyelesaian tugas akhirnya berulang kali tertunda. Video yang memperlihatkan mahasiswi tersebut menangis histeris hingga harus mendapatkan perawatan medis memantik kemarahan publik dan menjadi viral di berbagai platform media sosial.

Informasi yang beredar menyebutkan, mahasiswi semester akhir itu mengalami 12 kali pembatalan jadwal ujian dalam proses akademiknya. Jika informasi tersebut terbukti benar, publik mempertanyakan bagaimana tata kelola akademik dapat membiarkan seorang mahasiswa terkatung-katung hingga mengalami tekanan psikologis yang begitu berat.

Kasus ini memunculkan pertanyaan besar: apakah birokrasi kampus telah kehilangan sisi kemanusiaannya? Di tengah tuntutan agar mahasiswa lulus tepat waktu, justru muncul dugaan adanya proses akademik yang berlarut-larut dan dinilai tidak memberikan kepastian.

Desakan agar persoalan ini dibuka secara terang semakin menguat. Masyarakat meminta agar investigasi tidak berhenti pada klarifikasi administratif semata, melainkan mengungkap apakah benar terdapat kelalaian, pelanggaran prosedur, atau mekanisme pelayanan akademik yang merugikan mahasiswa.

Merespons sorotan publik, Universitas Nusa Cendana menyatakan telah membentuk tim investigasi untuk mengusut seluruh rangkaian peristiwa. Kampus juga menegaskan tidak akan segan menjatuhkan sanksi kepada siapa pun apabila ditemukan adanya pelanggaran sesuai hasil pemeriksaan.

Sementara itu, melalui kuasa hukumnya, dosen yang dikaitkan dalam kasus ini membantah sebagian narasi yang viral. Pihak dosen menyatakan pembatalan yang dimaksud berkaitan dengan seminar hasil penelitian, bukan sidang skripsi akhir. Perbedaan keterangan tersebut kini menjadi bagian dari proses investigasi internal kampus.

Terlepas dari perbedaan versi, satu fakta tak terbantahkan: seorang mahasiswi kini harus menjalani perawatan setelah mengalami tekanan mental yang serius. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan institusi melindungi martabat, hak, dan kesehatan mental setiap mahasiswanya.

Publik kini menanti hasil investigasi yang objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab jika benar ada kesalahan dalam tata kelola akademik, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik kampus, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi.

RED