Literasi.co.id, CIREBON – Ancaman kekeringan mulai membayangi Kabupaten Cirebon seiring meningkatnya intensitas musim kemarau. Pemerintah Kabupaten Cirebon menetapkan langkah siaga dengan memperkuat upaya antisipasi terhadap potensi krisis air bersih, penurunan debit sumber air, hingga risiko terganggunya produksi pertanian.
Pemantauan di sejumlah wilayah menunjukkan debit sungai, embung, dan sumur warga mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama bagi desa-desa yang selama ini bergantung pada sumber air permukaan maupun sumur dangkal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Cirebon menyiapkan skema distribusi air bersih menggunakan mobil tangki apabila terjadi kekurangan pasokan di permukiman warga. Koordinasi lintas instansi juga terus dilakukan agar respons terhadap wilayah terdampak dapat berlangsung cepat dan tepat sasaran.
Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim kemarau serta mengoptimalkan penggunaan air irigasi. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi risiko penurunan hasil panen apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Selain memperburuk kondisi lingkungan, aktivitas tersebut dapat memicu kebakaran yang risikonya meningkat selama musim kemarau.
Masyarakat diimbau segera melaporkan kepada pemerintah desa atau instansi terkait apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Dengan pelaporan yang cepat, bantuan dan penanganan diharapkan dapat segera dilakukan sebelum dampak kekeringan meluas.
Situasi masih terus dipantau. Pemerintah mengajak seluruh masyarakat tetap waspada, menghemat penggunaan air, dan mengikuti informasi resmi terkait perkembangan kondisi kekeringan di Kabupaten Cirebon.
NIKO






