Oleh: Istikhomah
Selama ini, Ilmu Geografi kerap dipandang sebelah mata. Di bangku SMA, pelajaran ini sering dianggap sekadar bagian dari IPS yang identik dengan hafalan peta, nama gunung, sungai, dan iklim. Dipelajari demi nilai, lalu dilupakan setelah kelulusan.
Padahal, justru setelah masa sekolah berakhir, Geografi mulai memainkan peran paling nyata dalam kehidupan manusia. Tanpa disadari, hampir seluruh keputusan penting—mulai dari memilih tempat tinggal, menentukan pekerjaan, membuka usaha, hingga menghadapi bencana—selalu berkaitan dengan ruang. Dan Geografi adalah ilmu yang mengajarkan cara membaca ruang tersebut dengan nalar yang jernih dan kritis.
Geografi Bukan Hafalan, Melainkan Cara Memahami Dunia Nyata
Geografi tidak mengajarkan siswa untuk sekadar mengingat nama tempat. Ia melatih cara berpikir analitis melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar yang langsung bersentuhan dengan realitas sosial dan lingkungan.
Apa yang sebenarnya terjadi ketika suatu wilayah terus-menerus dilanda banjir, longsor, atau kekeringan?
Geografi menjelaskan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan hasil interaksi antara kondisi lingkungan dan aktivitas manusia.
Di mana masalah itu muncul, dan mengapa selalu berulang di wilayah tertentu?
Jawabannya terletak pada karakter wilayah, kesalahan tata ruang, serta pemanfaatan lahan yang tidak sesuai peruntukan.
Siapa yang terdampak dan terlibat?
Masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, hingga pembuat kebijakan—semuanya memiliki peran dalam menentukan bagaimana ruang dikelola dan siapa yang menanggung risikonya.
Kapan risiko bencana dan konflik meningkat?
Saat alih fungsi lahan dibiarkan tanpa kendali, permukiman tumbuh di zona berbahaya, dan pembangunan dipaksakan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan.
Mengapa pembangunan tidak merata dan konflik agraria terus berulang?
Geografi membantu membaca faktor ekonomi, sosial, dan kebijakan yang mendorong ketimpangan wilayah serta perebutan ruang hidup.
Bagaimana seharusnya persoalan-persoalan ini disikapi?
Dengan perencanaan wilayah berbasis data geografis, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko lingkungan, serta kebijakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
Rangkaian pertanyaan inilah yang menjadikan Geografi sebagai ilmu yang hidup—bukan sekadar ilmu hafalan.
Lulus SMA, Geografi Tetap Dipakai Setiap Hari
Setelah lulus SMA, manusia tidak pernah lepas dari ruang. Memilih tempat tinggal, lokasi kerja, membuka usaha, bertani, berdagang, hingga menentukan jalur transportasi—semuanya berkaitan dengan jarak, aksesibilitas, potensi wilayah, dan risiko lingkungan.
Mereka yang memahami Geografi cenderung lebih sadar terhadap bencana, lebih kritis terhadap arah pembangunan, lebih peduli pada lingkungan, serta lebih memahami potensi daerahnya sendiri. Inilah bekal penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu memahami dan mengawal ruang hidupnya.
Jurusan IPS dan Geografi: Peluang Nyata, Bukan Jalan Buntu
Masih kuat anggapan bahwa jurusan IPS, termasuk Geografi, memiliki masa depan yang terbatas. Pandangan ini perlu diluruskan. Dengan penguasaan Ilmu Geografi, peluang kerja justru terbuka luas di berbagai sektor strategis, seperti perencanaan wilayah dan tata ruang, kebencanaan dan mitigasi risiko, lingkungan dan kehutanan, pertanahan dan agraria, pemetaan serta Sistem Informasi Geografis (GIS), riset wilayah, jurnalisme, hingga pendidikan.
Di era digital, krisis iklim, dan pembangunan masif seperti saat ini, kemampuan membaca ruang dan wilayah justru semakin dibutuhkan.
Indonesia Butuh Generasi yang Paham Ruang
Sebagai negara kepulauan dengan keragaman wilayah serta risiko bencana yang tinggi, Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam. Yang sering kali kurang adalah pemahaman terhadap ruang dan dampak dari setiap keputusan manusia di dalamnya.
Geografi mengajarkan generasi muda untuk tidak asal membangun, tidak mudah menyalahkan alam, dan tidak abai terhadap masa depan lingkungan. Memahami Geografi berarti memahami cara hidup yang lebih aman, adil, dan berkelanjutan.
Sudah saatnya Geografi ditempatkan pada posisi yang semestinya: bukan sekadar pelengkap IPS, melainkan ilmu penting yang diam-diam membentuk masa depan generasi muda Indonesia. Karena tanpa memahami ruang, kita bukan hanya bisa tersesat di peta—tetapi juga salah arah dalam menentukan masa depan.
Profil Penulis
Istikhomah adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas sebagai Guru Geografi di SMAN 1 Bongas, Kabupaten Indramayu. Ia aktif mendorong literasi ruang dan kesadaran lingkungan agar generasi muda tumbuh kritis, peduli, dan siap menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.







