Literasi.co.id, CIREBON – Fenomena kerasukan yang sering dianggap berbau mistis ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang kuat. Hal itu disampaikan oleh Niko Andri Lesmana, praktisi hipnoterapi asal Kota Cirebon, yang menilai peristiwa kerasukan dapat dijelaskan melalui ilmu neuropsikologi dan mekanisme kerja pikiran bawah sadar manusia.
Menurut Niko, kondisi seseorang yang tampak “dikuasai roh” sejatinya bisa disebabkan oleh mekanisme disosiasi, yaitu proses di mana otak memisahkan sebagian kesadaran diri saat menghadapi tekanan emosional atau stres berat.
“Dalam kondisi itu, area otak yang mengatur logika dan kesadaran menurun aktivitasnya, sedangkan bagian emosionalnya menjadi lebih dominan. Akibatnya, seseorang bisa berperilaku seolah bukan dirinya sendiri,” ujar Niko, di Cirebon, Rabu (12/11/2025).
Ia menjelaskan, bahwa saat seseorang yang berada dalam kondisi trance possession, pola aktivitas otaknya menyerupai keadaan hipnosis mendalam atau meditasi intens.
“Fenomena kerasukan sering kali bukan karena roh luar masuk ke tubuh, tetapi respons bawah sadar terhadap tekanan batin yang kuat, atau efek sugesti sosial di lingkungan yang mempercayainya,” tambahnya.
Niko juga menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menangani kasus kerasukan agar masyarakat tidak lagi terjebak pada ketakutan berlebihan.
“Pendekatan yang empatik dan menenangkan jauh lebih efektif dibanding tindakan yang memperkuat sugesti mistis. Kita perlu menolong dengan memahami pikiran, bukan menakuti dengan keyakinan,” jelasnya.
Sebagai praktisi hipnoterapi, Niko mengajak masyarakat untuk melihat fenomena kerasukan sebagai perpaduan kompleks antara pikiran, otak, dan budaya, bukan semata-mata hal gaib.
“Kerasukan menunjukkan betapa kuatnya pikiran bawah sadar manusia. Bila dipahami dengan benar, justru bisa menjadi pintu untuk memahami diri dan penyembuhan emosi,” pungkasnya.
Fakta Singkat: Kerasukan Menurut Ilmu Neuropsikologi
Disosiasi: Respons otak terhadap stres atau trauma berat yang memisahkan kesadaran diri.
Aktivitas Otak: Bagian pengendali logika menurun, bagian emosi meningkat.
Faktor Budaya: Keyakinan masyarakat memperkuat pengalaman “dikuasai roh”.
LITERASI.CO.ID







