Literasi.co.id, CIREBON 9 November 2025 – Kejadian memilukan yang mengguncang publik di SMAN 72 baru-baru ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi seluruh elemen pendidikan di Indonesia. Dugaan bahwa pelaku insiden tersebut merupakan siswa yang sebelumnya sering menjadi korban bullying, membuka mata kita semua bahwa tindakan kecil seperti ejekan, perundungan fisik, atau penghinaan verbal bisa meninggalkan luka batin yang dalam, bahkan memicu ledakan emosi yang tak terkendali.
Menurut Niko Andri Lesmana, seorang praktisi Hipnotis dan Hipnoterapi asal Kota Cirebon sekaligus jurnalis di media Literasi.co.id, bullying bukan sekadar kenakalan remaja. “Efeknya jauh lebih besar dari yang banyak orang sadari. Korban bullying bisa mengalami trauma mendalam, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengembangkan perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan atau pertahanan diri,” ujarnya saat dimintai tanggapan.
Niko menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk tidak hanya menanamkan nilai akademis, tetapi juga nilai empati dan kemanusiaan. “Setiap guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidik harus peka terhadap tanda-tanda anak yang sedang mengalami tekanan psikologis. Sosialisasi anti-bullying bukan lagi sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi harus menjadi bagian dari budaya sekolah,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan psikologis dalam menangani siswa korban bullying. “Banyak korban yang tidak berani berbicara karena takut atau merasa malu. Di sinilah peran guru dan konselor sekolah sangat penting. Pendekatan yang humanis dan penuh empati bisa menyelamatkan masa depan mereka,” ujar Niko.
Fenomena bullying kerap dianggap hal biasa, bahkan dinormalisasi sebagai bagian dari proses “pembentukan mental”. Padahal, kenyataannya, luka psikis akibat perundungan bisa bertahan seumur hidup. Dari ejekan ringan hingga kekerasan fisik, semua bentuk bullying berpotensi merusak karakter dan keseimbangan mental seseorang.
Karena itu, pasca tragedi di SMAN 72, sudah saatnya seluruh lembaga pendidikan di Indonesia melakukan evaluasi mendalam terhadap iklim sosial di lingkungan sekolah. Program pembinaan karakter, pelatihan empati antar siswa, dan pendampingan psikologis harus diperkuat.
Niko Andri Lesmana menutup dengan pesan tegas:
“Anak yang menjadi pelaku kekerasan hari ini bisa jadi korban di masa lalu. Dan anak yang menjadi korban hari ini bisa saja meledak di masa depan. Mencegah bullying bukan hanya menyelamatkan korban, tetapi juga menyelamatkan generasi.”
Tragedi SMAN 72 seharusnya menjadi momen refleksi bersama: bahwa pendidikan sejati tidak hanya mencetak siswa cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara emosional dan berjiwa sosial.
NIKO | LITERASI.CO.ID







