Literasi.co.id – Jakarta, 30 Agustus 2025 — Gelombang aksi unjuk rasa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berawal dari sebuah peristiwa di Gedung DPR RI, di mana sejumlah wakil rakyat kedapatan berjoged dan berpesta di tengah jeritan rakyat yang menghadapi beban ekonomi. Aksi yang viral tersebut memicu kekecewaan mendalam di tengah masyarakat.
Perasaan terhina dan dikhianati membuat rakyat turun ke jalan. Gelombang aksi yang mulanya berlangsung damai, berubah tragis ketika seorang pengemudi ojek online meninggal dunia akibat terlindas kendaraan taktis Brimob. Peristiwa ini menjadi pemicu kemarahan yang lebih luas.
Rentetan aksi meluas dari Jakarta hingga berbagai daerah di Indonesia, berlangsung sejak 28 Agustus 2025 hingga hari ini. Amarah massa terlihat nyata dengan perusakan dan pembakaran gedung DPRD di beberapa daerah, serta penyerangan terhadap pos polisi dan markas Polres.
Massa aksi terdiri dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga komunitas ojek online. Mereka menuntut keadilan bagi korban dan mengkritik tajam perilaku wakil rakyat yang dianggap tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat.
Kemarahan rakyat merupakan akumulasi dari berbagai masalah:
harga kebutuhan pokok yang terus naik,
kebijakan yang dirasa menindas,
serta janji politik yang tidak ditepati.
Joged di Gedung DPR hanya menjadi simbol puncak dari pengkhianatan yang selama ini dipendam rakyat.
Situasi kini memanas di berbagai daerah. Rakyat kehilangan kepercayaan terhadap DPR dan aparat penegak hukum. Sejumlah tokoh masyarakat menilai bahwa tragedi ini akan menjadi catatan kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia, sekaligus peringatan bahwa jeritan rakyat tak bisa diabaikan begitu saja.
( Hisam )







