Literasi.co.id, Jakarta – 10 Desember 2025. Kebakaran yang melumat kantor Terra Drone Indonesia di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, bukan sekadar insiden. Tragedi yang menewaskan 22 karyawan ini memperlihatkan dengan telanjang bagaimana standar keselamatan bangunan diabaikan, prosedur kerja longgar, dan pengawasan pemerintah tak berjalan sebagaimana mestinya, (9/12).
Dugaan awal: api berasal dari baterai litium, komponen yang terkenal rentan jika tidak disimpan dengan standar keamanan khusus. Di gedung yang seharusnya menjadi kantor modern perusahaan drone global, baterai itu justru disimpan di bangunan ruko yang minim ventilasi dan tidak punya sistem proteksi otomatis.
Ketika api muncul, karyawan mencoba memadamkannya dengan APAR seadanya. Lima alat pemadam tak cukup menahan panas, dan asap tebal naik melalui tangga sempit, menjadikan bangunan tersebut perangkap asap mematikan bagi puluhan pekerja yang berada di lantai atas.
Tim evakuasi menemukan 22 korban meninggal dunia, mayoritas akibat sesak napas. Di antara korban ada perempuan hamil yang sedianya akan melahirkan anak pertama pada Januari 2026.
Sebanyak 19 karyawan lainnya selamat, namun sebagian mengalami trauma berat.
Bangunan Tanpa Standar: Bukan Sekadar Kelalaian
Investigasi awal mengungkap fakta memprihatinkan:
• Tidak ada sprinkler
• Tidak ada detektor asap
• Tidak ada jalur evakuasi cadangan
• Tidak ada ventilasi memadai
• Kantor beroperasi di ruko tanpa fasilitas K3 standar industri teknologi
Standar minimal keselamatan gedung seperti seakan hanya menjadi dokumen administratif, bukan kenyataan di lapangan. Temuan ini menegaskan bahwa tragedi ini bukan musibah murni, melainkan gabungan dari kelalaian struktural yang berjalan lama.
Hingga hari ini, polisi telah memeriksa lebih dari 10 saksi, termasuk pemilik perusahaan berinisial MWW. Penyidik fokus menelusuri:
• Apakah penyimpanan baterai sesuai standar
• Apakah bangunan memiliki izin yang sesuai fungsi
• Apakah ada prosedur K3 yang dilanggar
• Siapa yang bertanggung jawab atas fasilitas keselamatan minim
Hasil penyelidikan akan menentukan apakah unsur pidana dapat dikenakan kepada pihak tertentu.
Terra Drone Corp. di Jepang menyampaikan permintaan maaf dan duka mendalam. Perusahaan menyatakan akan memberikan pendampingan pada keluarga korban dan memastikan audit internal dilakukan untuk mengevaluasi standar keamanan global mereka.
Namun publik menilai tragedi sebesar ini membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan, dibutuhkan pertanggungjawaban nyata dan perubahan sistemik.
Tragedi ini memicu kritik keras dari masyarakat dan komunitas K3. Banyak yang menilai bahwa penggunaan ruko sebagai kantor industri berisiko tinggi telah lama menjadi “bom waktu”, namun dibiarkan tanpa pengawasan ketat.
Komentar publik banyak menyoroti bahwa:
Perusahaan startup teknologi seringkali memprioritaskan operasional ketimbang standar keselamatan.
Pemerintah cenderung reaktif, bukan preventif, dalam melakukan pengawasan bangunan.
Edukasi dan regulasi penyimpanan baterai litium di Indonesia masih jauh tertinggal.
Tragedi Terra Drone Indonesia menjadi alarm keras bagi seluruh pelaku industri, khususnya sektor teknologi, logistik, dan energi berbasis baterai. Penyimpanan baterai litium tanpa standar bisa memicu bencana dalam hitungan menit.
Pengawasan terhadap bangunan berfungsi kantor maupun gudang perlu ditingkatkan, dan perusahaan wajib memastikan ruang penyimpanan perangkat berisiko tinggi sesuai standar internasional.
Kebakaran Terra Drone Indonesia tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa. Ini adalah tragedi akibat kelalaian sistemik, dari manajemen perusahaan hingga pengawasan pemerintah.
Jika pembenahan nyata tidak dilakukan, tragedi serupa hanya tinggal menunggu waktu.
NIKO | LITERASI.CO.ID







