Mahasiswa ISIF Cirebon Gelar Rembug Warga di Argasunya RT 02 / RW 07 Bahas Isu Lingkungan, Pendidikan, dan Budaya Lokal

Edukasi, Pendidikan1469 Dilihat

Literasi.co.id, Cirebon – Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon yang tengah melaksanakan Tugas Kuliah Praktik Islamologi Terapan (PIT) dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR), kembali menggelar forum Rembug Warga di Balai Pertemuan Kampung (BAPERKAM), RT 002/RW 07, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Kegiatan ini merupakan forum rembug ketiga, setelah sebelumnya membahas pemetaan spasial, sosial-ekonomi, serta budaya politik. Kali ini, mahasiswa PIT PAR kelompok 01 bersama warga berdiskusi mengenai isu-isu penting, di antaranya dampak dari keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta persoalan pendidikan, khususnya di Blok Sumurwuni.

Acara tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari aparatur kelurahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tokoh pemuda setempat.

Dalam sambutannya, Ketua Kelompok PIT Argasunya, Akhmad Isnan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan wadah nyata bagi mahasiswa untuk belajar langsung di lapangan bersama masyarakat.

“Kegiatan ini adalah bagaimana teman-teman PIT bisa menjalin komunikasi, berbaur, bahkan belajar langsung dari warga. Harapannya, kita semua bisa membuat dobrakan baru dari hasil pertemuan ini,” ujarnya.

Selain membahas isu lingkungan dan pendidikan, forum rembug juga menyinggung kekayaan tradisi serta budaya lokal masyarakat Argasunya. Beberapa tradisi khas yang disoroti antara lain:

Muludan: berbeda dengan daerah lain, di Argasunya terdapat tradisi berkat ember yang menjadi ciri khas, khususnya di wilayah Sumurwuni dan Benda Kerep.

Rebokasan: doa bersama sebagai bentuk tolak bala. Dahulu warga RT 02 / RW 07 Sumurwuni rutin berbondong-bondong ke Jati Pranje untuk menggelar tradisi mandi bersama. Namun sejak 2017, tradisi ini bertransformasi menjadi mandi laut, dengan sejumlah ritual pendahuluan seperti potong rambut dan prosesi lain.

Matang Wulan: tradisi empat bulanan, yakni doa dan pengajian ketika usia kandungan memasuki empat bulan.

Melalui forum ini, mahasiswa ISIF berharap dapat menggali persoalan nyata di masyarakat sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang ada di Argasunya. [ RIO ]