Literasi.co.id Bandung Barat 27 September 2025 – Ratusan siswa kembali menjadi korban keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Dalam dua gelombang kejadian, Senin (22/9/2025) dan Rabu (24/9/2025), tercatat sedikitnya 631 siswa jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan dari dapur MBG.
Alih-alih menghadirkan gizi sehat, program yang menelan anggaran miliaran rupiah ini justru berubah menjadi malapetaka. Siswa dari berbagai jenjang pendidikan—mulai PAUD hingga SMK—mengalami gejala serius, mulai dari mual, muntah, diare, pusing, hingga ada yang kejang dan harus dirawat intensif di rumah sakit.
Pemerintah memang telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) serta menutup dapur MBG di Cipongkor untuk investigasi. Namun bagi para orang tua, langkah ini dianggap terlambat dan tidak menyelesaikan masalah. Mereka menilai program MBG sudah gagal total.
“Cukup sudah. Nyawa anak-anak jangan dijadikan taruhan eksperimen program yang tidak jelas ini. Kami minta pemerintah hentikan MBG sekarang juga,” tegas salah satu orang tua korban.
Desakan serupa menggema di media sosial. Warganet menyindir keras dengan menjuluki program ini sebagai “Makan Berisiko Gratis”, menuding lemahnya pengawasan pemerintah serta adanya kepentingan bisnis di balik proyek penyediaan makanan.
Banyak pihak menilai, jika pemerintah benar-benar peduli terhadap kesehatan anak bangsa, maka solusi yang paling masuk akal adalah menghentikan program MBG dan mengembalikan dana langsung ke orang tua. Dengan begitu, keluarga bisa mengatur sendiri makanan sehat sesuai kebutuhan anak, tanpa harus bergantung pada dapur katering yang terbukti lalai menjaga kualitas.
Kasus Cipongkor menjadi tamparan keras sekaligus peringatan bahwa program MBG bukan solusi, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan siswa. Semakin lama program ini dipaksakan berjalan, semakin besar pula potensi tragedi serupa terulang di daerah lain.
( Hisam )







