Keris Naga Siluman dan Ribuan Artefak Bersejarah Segera Dipulangkan dari Belanda ke Indonesia

Literasi.co.id, Jakarta — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Pemerintah Kerajaan Belanda akan segera menuntaskan proses repatriasi sejumlah artefak bersejarah, termasuk Keris Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro dan koleksi penting lain dari masa kolonial. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya pemulihan warisan budaya bangsa yang selama berabad-abad tersimpan di luar negeri.

Keris legendaris “Naga Siluman”—yang dipercaya merupakan salah satu pusaka milik Pangeran Diponegoro, tokoh utama dalam Perang Jawa (1825–1830)—menjadi simbol penting dalam pengembalian ini. Artefak tersebut saat ini masih berada di Belanda dan termasuk dalam daftar prioritas repatriasi yang diajukan Indonesia.

Selain keris Naga Siluman, pemerintah juga mengajukan pemulangan keris-keris kerajaan dan pahlawan nasional lain seperti Teuku Umar, serta sejumlah benda pusaka kerajaan Jawa yang masih berada di museum-museum Belanda. Seluruhnya akan melalui tahapan penelusuran asal-usul (provenance research) untuk memastikan keaslian dan konteks historisnya sebelum dipulangkan ke tanah air.

Selain pusaka Diponegoro, Belanda juga telah menyetujui pengembalian lebih dari 28.000 fosil dan artefak arkeologis hasil penelitian Eugene Dubois dari Pulau Jawa, termasuk fosil terkenal “Java Man” (Homo erectus).

Kesepakatan pengembalian ditandatangani di Museum Naturalis Leiden, disaksikan langsung oleh pejabat tinggi kedua negara. Koleksi Dubois selama ini menjadi bagian penting dalam studi evolusi manusia, namun juga menyimpan jejak sejarah kolonialisme di bidang ilmu pengetahuan.

Kerajaan Belanda sejak 2023 telah menunjukkan komitmen kuat dalam restitusi benda budaya dari konteks kolonial, melalui pembentukan Colonial Collections Committee. Komite ini bertugas menilai dan merekomendasikan pemulangan koleksi yang diperoleh secara tidak adil selama masa penjajahan.

Dalam tahap awal, Indonesia telah menerima 288 artefak bersejarah pada tahun 2024, mencakup senjata, perhiasan, dan tekstil dari berbagai daerah di Nusantara. Pengembalian berikutnya akan berfokus pada benda-benda pusaka dan artefak kerajaan, termasuk Keris Naga Siluman, yang memiliki nilai simbolik dan spiritual tinggi bagi bangsa Indonesia.

Sebelumnya sempat muncul perdebatan publik terkait keaslian keris yang pernah dikembalikan pada tahun 2020, yang dianggap berbeda dapur dengan “Naga Siluman”. Namun, para ahli budaya menegaskan bahwa penamaan “Naga Siluman” bisa memiliki makna simbolik dan tidak selalu menunjuk pada bentuk fisik semata.

Proses penelitian mendalam kini tengah dilakukan untuk memastikan identitas dan sejarah setiap pusaka agar publik mendapatkan informasi yang akurat serta menghormati nilai-nilai tradisi Jawa yang melekat pada setiap artefak.

Setelah proses repatriasi tuntas, artefak-artefak tersebut akan dipamerkan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran ini dirancang untuk menjadi ruang edukasi publik mengenai perjalanan sejarah, perjuangan, dan warisan budaya bangsa.

Kementerian juga berencana menjadikan momentum ini sebagai bagian dari program “Repatriasi Nasional Warisan Budaya Dunia”, yang bertujuan memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian benda cagar budaya Indonesia di dalam negeri.

“Pemulangan keris Naga Siluman dan artefak-artefak lain bukan sekadar pengembalian benda, tetapi pengembalian martabat dan memori sejarah bangsa Indonesia,” ujar perwakilan Kemendikbudristek dalam konferensi pers di Jakarta.

“Ini adalah bentuk rekonsiliasi sejarah yang dilakukan dengan semangat kerja sama dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya antara Indonesia dan Belanda.”

Pemulangan Keris Naga Siluman dan ribuan artefak kolonial dari Belanda menjadi momentum penting dalam upaya bangsa Indonesia untuk merebut kembali narasi sejarahnya sendiri. Lebih dari sekadar benda, artefak-artefak ini merupakan saksi bisu perjuangan, spiritualitas, dan jati diri bangsa yang kini perlahan pulang ke tanah asalnya.

  [ NIKO ]