Oleh: Niko
Literasi.co.id – Bencana banjir yang kembali melanda Sumatera dan Aceh bukan sekadar soal curah hujan ekstrem atau siklus alam yang tak dapat dikendalikan. Tragedi ini adalah alarm keras, bahkan sudah bertahun-tahun berbunyi, tentang betapa mahalnya harga dari pembalakan kayu liar yang terus merusak hutan, mematikan fungsi resapan, dan menghancurkan benteng ekologis terakhir yang seharusnya melindungi masyarakat. Setiap debit air yang meluap ke rumah warga sejatinya membawa pesan: kerusakan hutan hari ini, adalah bencana bagi manusia esok hari.
Ironisnya, peringatan semacam ini sudah berkali-kali disampaikan, termasuk oleh sosok yang keberaniannya pernah menggetarkan para cukong dan mafia kayu di negeri ini yaitu Abi Kusno Nachran. Saat publik hari ini muram menyaksikan banjir di Sumatera dan Aceh, nama Abi seharusnya kembali diingat, bukan hanya sebagai jurnalis, tetapi sebagai pahlawan ekologis yang sudah dua dekade lalu memperingatkan bahwa pembalakan liar akan membawa kehancuran sistematis.
Abi Kusno adalah jurnalis investigasi asal Kalimantan Tengah yang tak gentar menyelami jantung operasi penyelundupan kayu ilegal dari Taman Nasional Tanjung Puting. Ia menulis laporan berani tentang mafia kayu, tentang bagaimana meranti dan ramin dikeruk secara brutal, diekspor ke luar negeri dengan restu jaringan politik dan militer. Dalam salah satu aksinya yang paling dikenang, ia menghentikan tiga kapal asing penuh kayu gelondongan—sebuah pukulan besar bagi para bandar kejahatan kehutanan.
Berbeda dari banyak jurnalis yang memilih berhenti pada batas “aman”, Abi menyebut nama-nama pejabat yang dianggap terlibat: dari Abdul Rasyid hingga Sugianto Sabran. Dampaknya jelas, keberaniannya dibayar mahal. Pada 28 November 2001, ia hampir dibunuh. Diserang sekitar 20 orang bersenjata mandau, tubuhnya dibacok 17 kali, empat jarinya putus, dan 350 jahitan menutup luka-luka yang nyaris merenggut nyawanya. Ia hanya selamat karena jari kakinya bergerak saat dinyatakan meninggal.
Namun ancaman tidak membuatnya berhenti. Abi bangkit dan masuk DPD RI pada 2004 untuk melawan mafia kayu dari jalur politik. Tetapi teror semakin intens: kotak kain kafan, gambar jenazah, hingga pesan intimidasi bertuliskan “JANGAN BUNUH MATA PENCARIAN KAMI”. Pada 24 Juli 2006, Abi tewas dalam kecelakaan di Tol Palimanan–Kanci, Cirebon, banyak pihak yakin itu bukan kecelakaan biasa. Hingga kini, publik tidak pernah mendengar hasil penyelidikan resmi.
Kini, lebih dari 18 tahun setelah kepergiannya, apa yang ia perjuangkan kembali menampar wajah kita. Hutan hancur, ekosistem runtuh, dan banjir menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Abi Kusno dulu membuktikan bahwa kehancuran alam Indonesia bukanlah fenomena tiba-tiba, tetapi hasil dari kerakusan yang dibiarkan tumbuh.
Banjir di Sumatera dan Aceh hari ini seharusnya tidak hanya memanggil bantuan kemanusiaan, tetapi juga kesadaran kolektif bahwa kerusakan hutan adalah kejahatan terhadap generasi mendatang. Penggundulan hutan akibat pembalakan liar membuat air hujan tak punya lagi tempat untuk diserap. Lahan kritis meluas, sungai kehilangan penyangganya, dan masyarakat menjadi korban berulang.
Kita kehilangan sosok seperti Abi, tetapi tidak harus kehilangan keberaniannya. Kisahnya mengingatkan bahwa suara seorang jurnalis pun bisa mengguncang sistem yang korup, dan itulah sebabnya ia menjadi ancaman bagi banyak kepentingan.
Hari ini, di tengah banjir dan luka-luka sosial yang muncul, Indonesia seharusnya kembali bertanya:
Jika suara seperti Abi dibungkam, siapa lagi yang akan memperingatkan kita tentang kehancuran yang sedang terjadi?
Dan lebih penting lagi, Sampai kapan kita membiarkan hutan Indonesia diperlakukan sebagai ladang uang bagi mafia, sementara rakyat membayar dengan bencana?
Ingatan atas Abi Kusno bukan sekadar narasi masa lalu. Itu adalah cermin pahit bahwa keberanian dalam membela hutan adalah benteng terakhir yang bisa menyelamatkan manusia. Semoga banjir hari ini tidak hanya menyisakan lumpur, tetapi juga kesadaran baru bahwa melindungi hutan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral dan kemanusiaan.







